UMKM Putar Haluan di Masa Pandemi Covid-19

         Masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini membawa dampak besar terhadap semua kalangan. Salah satunya, yaitu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). UMKM merupakan penggerak utama perekonomian Indonesia. UMKM memiliki kontribusi sebesar 60,3% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Selain itu, UMKM juga menyerap 97% dari total tenaga kerja dan 99% dari total lapangan kerja. Pada tahun 2018, jumlah UMKM sebanyak 64,2 juta pelaku usaha. Pada semester 1 tahun 2019 terdapat 64,19 juta unit UMKM yang tercatat oleh Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Berdasarkan jumlah tersebut, 63,35 juta atau 96% adalah pengusaha mikro, 781,1 ribu atau 1,22% merupakan pengusaha kecil. dan 60,7 ribu atau 0,09% adalah pengusaha menengah.

        Akibat adanya pandemi Covid-19, beberapa daerah melakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hal tersebut mengakibatkan terbatasnya pergerakan masyarakat sehingga membuat sektor perekonomian di beberapa daerah terganggu, seperti pendapatan pelaku UMKM menurun dan terhambatnya proses distribusi yang membuat harga pangan tinggi. Selain itu, muncul pelaku usaha baru yang menjadikan persaingan semakin ketat. Maka dari itu, UMKM harus memutar otak dan mencari peluang agar dapat bertahan di masa pandemi ini.

          Adapun cara-cara agar UMKM tetap bertahan di masa pandemi Covid-19, yaitu :

·      Mengubah bisnis offline menjadi online

Pelaku UMKM bisa menjual produk-produknya di platform e-commerce, seperti Shopee, Lazada, Tokopedia, dan sejenisnya. Selain itu, pelaku UMKM dapat memasarkan produknya melalui media sosial, seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, Twitter, dan lain sebagainya

·      Memilih layanan keuangan yang tepat

Pemakaian layanan pembayaran digital meningkat di masa pandemi Covid-19 karena masyarakat lebih memilih memenuhi kebutuhannya secara online. Dengan adanya transaksi online baik konsumen maupun. penjual dapat dengan mudah melakukan kegiatan jual beli tanpa bertatapan secara langsung. Pandemi Covid-19 membuat transaksi online terus digalakkan. Selain mengurangi penyebaran Covid-19, juga bertujuan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Adapun e-wallet di Indonesia antara lain, yaitu ShopeePay, OVO, GoPay, LinkAja, DANA, dan lain sebagainya.

·      Menjual produk yang dibutuhkan

Berdasarkan hasil survei Global Consumer Insights 2020 Pricewaterhouse Coopers (PwC) dalam hal pengeluaran, lima besar peningkatan belanja konsumen Indonesia adalah produk kesehatan (77%), bahan makanan (67%), hiburan & media (54%), pengambilan/pengiriman makanan (47%), dan perbaikan rumah/berkebun (32%). Oleh karena itu, pelaku UMKM dapat menjual produk kesehatan ataupun bahan makanan yang sedang dibutuhkan pada masa pandemi ini, Produk kesehatan antara lain, yaitu masker, hand sanitizer, face shield, dan lain sebagainya

·      Ikut berpartisipasi dalam program pemerintah

Adapun program pemerintah yang terkait dengan UMKM, yaitu e-brochure, Pasar Digital UMKM (PaDi UMKM), Laman UMKM, Bela Pengadaan, dan masih banyak lagi.

        Pandemi Covid-19 menjadi sebuah tantangan yang harus dihadapi oleh UMKM agar tetap bertahan. Maka dari itu, pelaku UMKM perlu meningkatkan kinerja dan lebih memanfaatkan media digital yang ada demi keberlangsungan usahanya. Selain itu, mencoba inovasi baru sangatlah disarankan agar UMKM tidak berjalan monoton. Adanya pemanfaatan teknologi informasi akan membuat UMKM dapat bersaing di pasar lokal maupun global.




Sumber :

Katadata.co.id

Pwc.com

Comments