Menyapa Tetangga

            Satu hal yang orang tuaku ajarkan kepadaku adalah menyapa tetangga. Ada satu kejadian yang selalu melekat di otakku. Waktu itu aku berangkat ke SMP diantar papahku naik mobil. Ketika dalam perjalanan keluar gang rumahku, kami berpas-pasan sama satu tetangga yang lagi jalan. Papahku menyapa tetangga itu dan aku tidak melakukan hal tersebut. 

Lalu, papahku menegurku, "Kenapa tadi nggak nyapa?" 

"Lho, kenapa pah?"

"A, kalo kamu ketemu sama orang yang kamu kenal, kamu harus menyapa. Apalagi itu tetangga kita."

"Kenapa harus gitu?"

"Iya, biar nggak dikira sombong dan itu salah satu cara kita bersosialisasi. Kita di sini nggak ada saudara. Orang yang dekat dengan rumah kita adalah tetangga. Kalau misalnya di rumah kita terjadi sesuatu dan harus ada penanganan yang cepat, yaa pasti kita meminta bantuan tetangga. Kalau kita nggak bersosialisasi kan aneh, kita tinggal di sini masa nggak kenal sama orang-orang di sekitar kita. Lain kali ketemu tetangga lagi harus nyapa. Nanti Aka bakal tau apa yang didapatin dari kebiasaan menyapa tetangga."

             Apa yang papahku bilang dulu itu bener banget. Salah satu manfaat yang aku rasain adalah bisa dikenal orang lain. Salah satu contohnya, yaitu ketika aku pulang SMA naik bis terus turun di gang rumahku. Tiba-tiba ada satu tetangga naik motor dan nawarin pulang bareng. Aku menerima tawaran tetangga tersebut karena jarak mulut gang dengan rumahku lumayan jauh dan kebetulan waktu itu hujan deras.

        Menyapa nggak cuma bilang, hai, halo, atau  panggil nama. Dengan senyuman dan sedikit mengangguk itu sudah termasuk menyapa. Jujur saja, aku kadang lupa menyapa orang yang aku kenal. Makanya ada beberapa orang yang bilang aku sombong dan cuek. Maaf ya gez, kalo aku seperti itu ke kalian.


Comments